Minggu, 27 Desember 2015

BALADA LAPTOP RUSAK (3): [PUISI] Kehilangan



Gelisahku membuncah
Kutitipkan pada pekatnya malam itu
Pada gelombang emosi yang tak kunjung reda
Meliuk-liuk dalam putaran bayangan hitam
Aku takut esok hari tiba
Membayangkan raga rapuh oleh rasa kecewa

Air mata yang terus tumpah
Memasang wajah gundah
Inikah rasanya kehilangan naskah?
Begitu resah
Begitu marah

Jika pelangi datang setelah hujan reda
Jika tersimpan hikmah dibalik masalah
Maka, kusunggingkan sesenti senyuman walau terpaksa
Agar amarah yang tak kunjung reda, segera sirna
Dan tawa, menjadi pelipurnya

Karang Anyar, Desember 2015
Srea,
Bersama kehilangan yang menghantui

BALADA LAPTOP RUSAK (2): SUSAHNYA NYARI WARNET BENERAN



Setelah sejenak menghukum diri dengan memikirkan hal terburuk yang akan terjadi akibat rusaknya laptopku, aku mulai memikirkan satu hal bahwa aku sudah dewasa. Menangis dan marah bukan cara orang dewasa menyelesaikan masalah. Entah kerasukan motivator dari mana, tersirat dalam pikiranku untuk segera mengatasi hal yang bisa kulakukan, semampuku.
          Besok revisian harus dikumpul, sebelum hari itu menunjukan pukul 00.00 WIB, aku mencoba mengumpulkan nyali untuk keluar malam mencari warnet. Aku lupa malam itu tepat pukul berapa, sebelumnya aku berpikir untuk meminjam laptop temanku, tetapi aku butuh koneksi internet yang cepat untuk mengunduh beberapa jurnal penelitian dan referensi lainnya yang aku butuhkan. Akhirnya, kuputuskan untuk pergi ke warnet dulu, setelah itu mengedit di laptop temanku.
          Aku tidak terlalu tahu letak warnet di daerah kostanku. Setauku, dulu memang ada warnet yang cukup ramai. Letaknya di tepi jalan dekat mini market dan gang sebelah, posisi yang cukup strategis karena memang dekat toko buku dan tempat jajanan juga di sekitarnya. Warnet tersebut sepertinya sudah memiliki ruang di hati pelanggan, terbukti karena selalu ramai dari siang sampai malam. Dulu, beberapa kali aku sempat kesana untuk nge-print, karena selain harga bersahabat dengan mahasiswa kostan, juga fasilitas di warnet itu cukup lengkap, bisa cetak foto dan spanduk dengan berbagai ukuran, tak lupa kualitas pun memang memuaskan. Dan, penjaga atau—mungkin—pemilik warnetnya pun terlihat ramah dan ganteng, mungkin itu cukup menjadi modal paling ampuh untuk warnet menjadi ramai. Manusiawi, cuci mata laaaah!
           Tetapi, warnet idaman itu kini telah tiada, kurang lebih satu tahun yang lalu, warnet itu tutup, aku tidak tahu asalannya kenapa, tapi sempat membaca spanduk kecil bertuliskan “Tanah Ini Dijual” bahkan ketika keberadaan warnet itu masih nyata. Dan, tak lama dari situ, warnet itu tutup. Aku cukup kecewa, karena di sekitarnya memang belum ada fotokopian. Tetapi, tak lama dari situ, ada fotokopian baru yang jaraknya lebih dekat dengan gang kostanku dibandingkan dengan jarak warnet itu.
          Ingatanku segera kembali ke masalah yang kuhadapi, bayangan warnet idaman itu seketika sirna, cukup bingung harus mencari warnet kemana. Dan, aku baru ingat ada warnet di dekat kostanku yang jaraknya hanya 100 meter saja, tetapi memang aku tak pernah kesana karena setiap kali lewat pun selalu ramai oleh anak-anak cowok yang kebanyakan memakai seragam SMP dan SMA.
          Sebelumnya aku mengirim pesan singkat ke temanku yang nge-kost daerah yang sama denganku namun berbeda gang saja, siapa tahu dekat kostannya ada warnet karena kalau gak salah letaknya dekat sekolah SMP juga. Namun, pesanku tak kunjung dibalas, sehingga aku memutuskan untuk pergi keluar untuk datang ke warnet terdekat yang kutahu, sebelum malam terlalu larut dan gerbang kostan dikunci.
          Warnet terdekat itu terlihat tak terlalu ramai, tetapi lampunya agak redup, aku agak takut sebenernya. Tetapi karena kepepet, keberanianku tiba-tiba muncul begitu saja, hal ini biasanya disebut power of kapepet. Aku pergi ke warnet tersebut, dugaanku benar, banyak anak-anak cowok yang sedang memenuhi ruangan warnet tersebut. Aku segera memasuki warnet, mulai gak enak hati sebenernya, ada bau asap rokok yang menyengat dan membuat tak nyaman. Ah, tapi kan cuma sebentar, pikirku. Dan, kupilih komputer yang dekat dengan operator sekaligus dekat dengan pintu masuk, kebetulan kosong.
          “Mau paket berapa, Teh?” tanya operator warnet.
          “Nggak di paket, A,”          jawabku.
          “Oh ya, Teh.”
          Kunyalakan CPU dan monitor komputer, layar yang pertama muncul adalah gambar pilihan situs game online yang beragam. Aku klik close dan mulai mencari om gugel, dan ternyata ketemu, dan segera meluncur untuk mencari bahan untuk revisian yang sudah aku list di notebook ku.
          Beberapa file yang aku unduh berupa pdf sehingga lebih mudah di simpan dalam flashdiskku, tetapi ada beberapa file juga yang harus aku copy paste dalam bentuk word, dan aku cukup panik karena ternyata tak ada aplikasi Microsoft Office, huaaaaa. Cukup aneh buatku karena biasanya warnet selalu nyediain aplikasi yang umum lah kayak Microsoft Office, masa cuma bisa internetan doang. Dan ternyata, setelah aku keluar dari warnet tersebut, aku baru baca spanduk didepan warnetnya bertuliskan game online. Azzzzz-__-
          Sebelumnya, aku sudah mengetahui keberadaan warnet game online di dunia jaman sekarang, memang banyak, tetapi aku gak tahu kalau warnet game online benar-benar hanya menyediakan aplikasi game online dalam komputernya. Udah ketebak, para gamer yang mayoritas siswa, datang ke warnet bukan mau ngerjain tugas, tetapi cuma mau maen game. Miris.
          Sebagai salah satu korban game, aku cukup takut dengan keberadaan game-game yang seru, karena aku dulu suka banget maen game walau permainannya ecek-ecek alias gak butuh mikir keras buat mainnya. Tetapi, dampak yang aku dapetin setelah maen game adalah kebanyakan negatifnya, aku sering lalai dan malas-malasan karena game tersebut. Kadang, yang niatnya cuman pengen nge-refresh otak, malah bikin otak jadi males, hahaha. Entahlah, ya, mungkin setiap orang punya sensasi berbeda ketika dan setelah maen game.
          Setelah itu, aku segera pulang, malam sudah benar-benar larut, gerbang kostan udah digembok namun belum terkunci gemboknya, ah syukurlah. Dan, tiba-tiba temanku membalas pesanku yang memberitahukan bahwa di sekitar kostannya banyak warnet namun cuma warnet game online, kalau warnet yang benerannya malah jauh dari kostannya dia. Gubrak! Lihat saja? Cuma warnet game online yang banyak! Warnet beneran? Ya, mungkin yang dimaksud temanku adalah warnet yang normal, tidak dipergunakan untuk maen game saja, warnet yang seperti warnet idamanku dulu. Tetapi, apa boleh buat jika warnet game online ternyata lebih laku dibandingkan dengan warnet beneran. Toh, pengguna warnet beneran sudah sangat jarang karena kebanyakan orang mungkin sudah memiliki laptop pribadi untuk melakukan tugas dan pekerjaannya. [ ]

Karang Anyar, 21 Desember 2015
Srea 
Bersama sisa kalut di malam pencarian warnet

BALADA LAPTOP RUSAK : Revisian Hilang Dalam Sekejap, Bagaimana Perasaanmu?



Masih lekat dalam ingatanku, waktu itu—ketika sedang semangat mengerjakan revisian—laptopku rusak. Oke, sudah terbayangkah perasaanku saat itu?
         Mungkin bagimu tidak. Tapi bagiku, ketika itu, dunia seperti berakhir.
         Mungkin bagimu tidak. Tapi bagiku, ketika itu, dunia seperti tak berpihak padaku.
         Mungkin bagimu tidak. Tapi bagiku, ketika itu, aku seperti ingin pergi ke bulan karena bumi sepertinya sudah tidak asik lagi. Dan, di bulan mungkin aku bisa bertemu arwah Neil Amstrong, lalu aku bisa curhat padanya, ya paling tidak ada mantan manusia utuh yang pernah punya empati.
          Mungkin bagimu tidak. Tapi bagiku, ketika itu, aku seperti ‘harus’ marah-marah ke semua orang untuk sekedar memberitahukan kepada mereka bahwa aku sedang kecewa.
         Mungkin bagimu tidak. Tapi bagiku, ketika itu, ototku lemas, perasaanku gelisah, mataku panas, perih dan berat.
         Dan yang kulakukan hanya menangis. Panik laptopku mati total, alih-alih mencari solusi, aku hanya memukuli kepalaku dengan kepalan tanganku sendiri.
          Betapa aku menyesal, laptopku rusak karena ulahku sendiri. Selama ini, laptop tak sepenuhnya dipakai untuk mengerjakan tugas kuliah. Tetapi juga digunakan untuk download film, main game, ngedengerin full music dari sore ampe subuh, dan bahkan aku pernah dengan tidak sengaja menjatuhkannya.
         Beberapa hari sebelumnya, temanku sempat bicara kalau laptopku cepet panas, jadi harus segera di instal ulang. Tapi, kubilang, “ya, nanti saja,” alias mengabaikan peringatan teman yang mungkin pengalaman juga laptopnya pernah rusak.
          Ini adalah kedua kalinya laptopku rusak, pertama netbook kesayanganku yang rusak karena ketumpahan air minum.
         Kepanikanku beragam kali ini, pertama, ini laptop yang sejatinya bukan punya aku, karena bukan hasil uang aku sendiri dan cukup takut dimarahi karena ini yang kedua kalinya aku merusak laptop. Seperti terkesan tak belajar dari pengalaman pertama. Hiks T_T
         Kedua, di dalam laptopnya banyak data punya bapakku yang tak ada backup-annya, mungkin data punyaku gak sepenting punya bapakku.
        Ketiga, dalam kondisi sedang melakukan perbaikan revisi proposal tugas akhir, aku panik sekali karena besoknya harus segera dikumpulkan ke dosen pembimbing. Yang ini panik parah sebenernya, data revisi yang sudah aku cari, hilang seketika. Dalam jangka pendek, poin ini paling penting pada saat itu karena dalam bayanganku adalah hasil kerja kerasku mencari bahan-bahan untuk revisi laksana angin, berlalu begitu saja. Dalam bayanganku pula, esoknya aku akan dimarahi dan rusaknya laptopku tidak bisa dijadikan alasan. Tetapi, bayangan itu benar-benar hanya bayangan saja, ketakutan yang berlebihan. Besoknya, aku masih bisa melakukan perbaikan revisi di laptop temanku dan dospem memberi dispensasi untuk perbaikan selanjutnya ada pengunduran waktu deadline. Alhamdulillaaaaah.
      Keempat, selain data revisi, walau tak sepenting data-data punya bapakku, tapi beberapa data berisi naskah yang sudah sekian lama kusimpan baik-baik, terancam hilang juga (jika kondisi kerusakannya parah sampe ke hard disk).
        Kelima, aku seperti tak siap akan mengerti arti kehilangan. Aku merasa Allah memberi ujian ini agar mental aku lebih kuat, atau bahkan ini hukuman dari sikap aku selama ini yang ceroboh.
         Apakah yang aku rasain ini berlebihan? Keadaan seperti itu cukup membuat aku tidak mengontrol diri, emosiku benar-benar memuncak, semua orang yang bicara padaku saat itu kena imbasnya, aku benar-benar tidak bisa berpikir bagaimana solusi terbaik, yang ingin aku lakukan saat itu adalah pergi ke bulan, dan karena mustahil, hal itu semakin membuat aku kecewa.
        Bagaimana perasaanmu jika revisian hilang dalam kondisi besoknya harus menghadap dosen pembimbing? [ ]

Karang Anyar, 21 Desember 2015
Srea,
Bersama rasa kecewa pada diri sendiri

Selasa, 22 Desember 2015

HARI IBU: Ini Ucapanku, Apa Ucapanmu?

Selamat Hari IBU!! 
     Ya, hari ini, tepat pada tanggal 22 Desember 2015, sejarah mencatat sebagai hari ibu. Mengapa harus ada hari ibu? Padahal sejatinya, kasih seorang ibu untuk anaknya tak pernah mengenal waktu, tak lekang barang sedetik pun, aku yakin kalian semua setuju.
     Tetapi, “anggap sajalah hari ini sebagai klimaksnya,” tutur penulis yang berasal dari Bandung, Pidi Baiq, dengan gaya celetukannya di twitter saat menjawab mention dari para penggemarnya, eh sebut saja kawan-kawannya.
      Betul, apa boleh buat, di Indonesia bahkan di seluruh dunia, selalu ada hari-hari bersejarah yang apabila tanggal tertentu terulang, merayakannya seolah-olah menjadi tradisi bagi siapapun yang ingin merayakannya. Jika tidak pun, tenang saja, tak jadi dosa. Hanya saja, mungkin, terkesan tak memiliki ruang perasaan untuk sebuah kenangan. Dan, sepertinya, dari kita sangat tahu betul arti kenangan, hingga sangat perlu untuk dirayakan sebagai ungkapan rasa terima kasih atau ungkapan rasa rindu #duh. Buktinya, selain hari ibu, ada hari ulang tahun, hari kemerdekaan, hari bumi, hari kartini, hari pahlawan, bahkan hari jadian #eh.
     Oke, bicara soal hari ibu. Dari pagi, aku menstalking timeline media sosial bahkan recent update di bbm. Dan, oh, banyak sekali yang memasang display picture bersama ibu masing-masing dengan menulis ucapan selamat hari ibu di personal message. Hal tersebut, sungguh haru, betapa momen indah bersama ibu seperti terulang, mengenang betapa bandelnya kita bersanding dengan betapa besarnya tulus kasih ibu, yang mungkin di hari lain, kita tak terpikirkan.
     Walau begitu, ada beberapa gambar dan tulisan teman-teman yang cukup unik, yang terasa lucu bahkan terasa menyindir. Berikut ucapan-ucapan unik beberapa temanku:
1. Selamat Hari Ibu untuk para ibu di dunia ini, termasuk ibumu, calon mertuaku. #kode pengen di lamar untuk cewek baper#
2. Selamat Hari Ibu untuk calon ibu dari anak-anakku. #kode keras banget seorang cowok pengen ngelamar tapi belom ada manuver, ckckck#
3. Nulis Selamat Hari Ibu di sosmed, tapi udah ngucapin langsung belom ke ibunya. Hayoooo. #sindiran nih, bener juga tuh#
4. Love You MOM weh ah, ari dititah meuli katuncar jeung tabung gas ku indung mah embung. #hahaha, seolah seorang ibu yang sedang bicara# (bhs Sunda: bilang love you, Mom! Ah, tapi kalau disuruh beli ketumbar sama tabung gas gak mau)
5. “Mah, aku sayang mamah” | “……” | “Kenapa, Mah?” | “Kayaknya kita temenan aja deh” | “*&^%$##” #hahaha, salah tangkep, dipikir nembak cewek# (diambil dari twitter Bang @Dzawinur)
6. “Mah ini kadonya, Selamat Hari Ibu,” | Anjr*t, selama ini gue besarin elu, ngurus elu sampe segede gini, tapi elu cuma ngasih gue beginian? | “___” #wkwkwk jleb banget, ini sih sindiran frontal banget, cocok jadi bahan renungan# (diambil dari twitter Bang @Dzawinur)

     Dan masih banyak lagi ucapan-ucapan unik lainnya yang terkadang sekilas seperti lucu, tetapi mengandung filosofi yang dalam #halah.
     Well, aku sendiri, cukup merasa #jleb dengan keenam contoh diatas, karena posisiku kadang seperti jadi cewek baper kayak nomor satu. Kadang jadi cewek yang dibaperin sama cowok yang belom ngasih manuver apa-apa kayak nomor dua. Kadang jadi anak yang kayak nomor tiga, gak punya nyali buat ngomong langsung ucapan itu ke ibu, karena malu, gak terbiasa gombal ke ibu, biasanya nge-gombalin cowok (yaelah dasar cewek agresif!) HAHA. Kadang jadi anak yang so sweet di media sosial namun tak semanis di dunia nyata, terutama ketika mamaku nyuruh aku ke warung, hahaha pas di nomor empat. Terkadang pula aku berada di posisi nomor enam yang mungkin jadi bahan renungan yang dalem banget karena udah segede gini belom bisa bikin mama bangga, masih nyusahin, masih manja, masih belom ngasih sesuatu yang berharga #ah sedih#. Tetapi, untuk nomor lima, itu kayaknya gak mungkin, jarang juga kayaknya ibu yang ampe salah tangkap kayak gitu, hihihi.
    So, dari beberapa contoh ucapan sebagai ungkapan dari temen-temenku, aku terpikirkan satu hal, hari ayah. Kalau gak salah, hari ayah ada kok, ya? Tapi aku lupa dan tak banyak yang tahu mungkin, jadi tak se-booming hari ibu.
   Ayaahh... walau hari ini ibu sedang terkenal, tetapi tanpa ayah, ibu tak akan menjadi ibu, terlebih tanpa anak, ayah dan ibu tak menjadi orang tua. Jadi, untuk para ayah, jangan cemburu semua orang menyebut nama ibu, karena dibalik itu semua, peran ayah sangat berharga. [ ]

Karang Anyar, 22 Desember 2015  
Srea,
Bersama guyuran cinta dari ibu dan ayah

Senin, 07 Desember 2015

The Remix Grand Final

Minggu, 6 Desember 2015 merupakan malam yang sangat dinanti para finalis The Remix Grand Final, yaitu Monostereo (Melly Mono dan Osvaldo Rio) dan Soundwave (Rini Wulandari dan Jevin Julian), karena malam ini adalah penentuan pemenang The Remix 2015.
Sebagai penonton yang cukup setia, aku menonton acara ini dari awal walau pada dasarnya aku gak ngerti remix atau genre electronic music yang sekilas terdengar bising dan cuma cocok buat party.
Tapi, sebagai penikmat musik yang gak ngerti tekniknya, aku cukup terhibur dengan ajang kompetensi ini, karena pertama, ajang ini anti mainstream dan baru pertama kali diadakan di teve yang konsepnya keren banget. Kedua, karena aku tahu yang ngadain acara ini Net TV (televisi masa kini) yang setiap acaranya selalu fresh dan beda dari teve-teve lain. Ketiga, karena aku suka sama beberapa finalisnya yang mungkin sudah eksis dan punya karya dalam bidang musik sebelumnya tapi disini mereka tampil beda dan sangat kompetitif.       
Dari awal aku nge-idola-in banget soundwave karena penampilan mereka selalu pumping, seksi, keren dan pecah, bahkan dari awal mereka selalu berada di peringkat pertama dalam voting twitter. Baik Rini maupun Jevin, mereka udah punya daya tarik tersendiri dan selalu memberi kesan konser dalam setiap penampilannya, hingga gak aneh mereka sampe ke grand final ini.
Sedangkan, monostereo benar-benar memberi kejutan banget bisa berada di grand final hingga ditetapkan sebagai juaraaaaa, woowww!! Terharu banget dan bangga banget sama Rio yang merupakan finalis termuda yaitu 20 tahun. Juga Teh Melly tak kalah kerennya karena yang aku tahu aliran musik Teh Melly itu mellow, tapi di the remix ini Teh Melly bener-bener tampil beda. Salut dan congratulatiooonnnnn!!!! Wuhuuuu!!!!    
Well, dengan segala keunikan dari mulai konsep acara hingga surprising dari setiap epidosenya, aku sangat terhibur dengan acara the remix ini. Dan, aku setuju sama judgers yang mengatakan bahwa kedua finalis ini udah jadi juara!! 
Dari Soundwave, kita mungkin bisa belajar arti prestasi dan konsistensi. Mereka yang selalu berada dalam voting tertinggi dari awal hingga sampai ke grand final merupakan wujud konsistensi mereka mempertahankan prestasi, karena pada dasarnya mempertahankan itu lebih sulit ketimbang mencapainya. Dan, dari Monostereo, kita mungkin bisa belajar arti berproses dan berkembang, karena ruang kompetensi adalah tempat untuk itu hingga kita tercatat sebagai pemenang, tentu saja itu tak mudah. That’s the point!
“Di The Remix ini gak ada me time!” –  Melly (Monostereo)
“Aku bener-bener belajar di sini, nguras otak dan waktu banget.” – Osvaldo Rio (Monostereo)
“Di belakang layar kita bener-bener saling support dan aku berusaha menjadi diri sendiri di setiap penampilan.” – Jevin Julian (Soundwave)
“Selalu berusaha menampilkan yang terbaik, walau kadang stres.” – Rini Wulandari (Soundwave)

Oh YAP, once again! Alasan lain aku menonton acara ini karena aku suka banget sama hostnya, Deva Mahendra yang kece banget karena ternyata multitalenta! Dia bisa nge-host, acting, nge-rap dan nge-gombal. Hahaha~~~ [ ] 

Jenuh

Kamu pernah ngerasain jenuh? Pasti pernah karena itu hal yang manusiawi.
Menilik dari pengertiannya dalam KBBI, jenuh adalah jemu; bosan; suatu keadaan bosan terhadap pekerjaan yang selalu sama. Setiap kita yang pernah merasakan jenuh pasti punya cara tersendiri untuk mengatasinya, biasanya hal-hal yang berbau hobi.
Namun, apa jadinya jika kita justru merasa jenuh dengan hobi? Mungkin agak repot jika hobinya cuma punya satu, sehingga seperti tak ada pilihan lain untuk mengerjakan sesuatu yang kita sukai. Dan, itu dia masalahnya!
Malam minggu kali ini, aku agak direpotkan dengan keadaan yang demikian. Padahal, ini waktunya cocok banget buat me time yang biasanya selalu ada sensasi yang fun karena sibuk dengan hobi alias dunia sendiri (semacam dunia imajinasi). Mengingat besoknya adalah hari Minggu yang kebetulan gak ada kegiatan kemana-mana dan bebas tugas kampus (aslinya banyak tugas tapi sok-sok’an lupa), yang aku bayangkan adalah hari esok yang penuh dengan hibernasi.
Biasanya, selain hibernasi, aku selalu menyempatkan waktu aku untuk nyentuh naskah yang kebanyakan gak rampung, yang sekalinya rampung—ketika dibaca ulang—suka ada hasrat untuk merombak ulang (jiwa editor semena-mena), mungkin faktor mood atau apapun itu, tapi sepertinya ini adalah bumerang buat aku sendiri yang pada akhirnya, aku yang pengennya ngirimin naskah ke penerbit tahun 2015 ini, terancam gagal! So SAD T_T
Titik jenuh terparah yang aku rasakan mungkin saat ini, ketika hobi pun menjadi hal yang membosankan bagiku, menulis, aku seperti tak menemukan sensasi yang sama kayak dulu. Aku gak tahu kenapa. Bahkan, membaca, aku seperti butuh bacaan yang mmm apa yaaaa, memotivasi mungkin, tapi beberapa buku yang kubuka malah seperti terkesan flat atau akunya kali ya yang lagi rese sehingga buka buku tanpa nafsu gitu, semacam kehilangan nafsu makan untuk memakan ilmu dari buku itu #duh. Aaaaakkkk ada apa dengan diri ini?
Aku pikir, mungkin ini hanya sementara, atau inikah sindrom skripsi? Sindrom yang akan dirasakan semua pejuang tugas akhir? Iya kah? Padahal, ini baru mau mulai woy! Atuuuhlaaaah *jedotin kepala ke dinding hingga dindingnya yang retak* -_-
Dan, malam ini aku kebetulan lagi ngobrol sama temen aku, namanya dirahasiakan, dia cuma bilang dengan bijaknya: “Butuh motivasi? Kamu datang ke orang yang tepat!” Oh, oke aku cukup tertarik untuk meminta motivasi dari dia. Lalu setelah mencerna kata-kataku yang isinya keluhan semua, dia bilang: “Mungkin kamu sebenarnya sedang berada dalam tekanan, yang tanpa kamu sadari.” Duh, mungkin dia bener. *Nangis sesenggukan*
 So, aku cuma butuh pengertian. *apa sih*
Aku butuh sesuatu yang bisa membakar semangat dan ambisi aku yang semakin ke sini semakin mmmmm surut #hiks. Ayolaaah, jangan sampe nyerah sama keadaan menyebalkan ini!!! Semangaaaat doong!!! (Asli lah ngomong mah gampang)!! Huaaaaaa T_T
Dan, yang memperparah keadaan ini adalah ketika aku merasa ingin bercerita kepada seseorang tanpa kata-kata. Maksudnya, selain Tuhan yang sudah pasti tahu isi hatiku. Susah memang, sebelumnya aku pernah merasakan fase ini, dulu, dan yang kulakukan adalah sikap berontak. Kini, aku tak ingin itu terulang kembali. HELP!! [ ]